“Mana oleh-olehnya?”

Pertanyaan ini selalu keluar dari mulut saudara-saudara atau teman-teman setiap kami-kami yang berdomisili di luar negeri datang berkunjung ke Indonesia. Apakah basa-basi atau serius, hanya yang bertanya yang tahu. Sementara yang ditanya jadi tidak enak hati: ini serius atau basa-basi, ya?

Topik oleh-oleh ini sering jadi pembicaraan saat saya bertemu dengan teman-teman di acara Indonesia. Mulai dari siapa-siapa saja yang mesti dibawakan oleh-oleh, ide buat oleh-oleh, hingga bagaimana yang dioleh-olehin tidak begitu gembira dengan apa yang didapatnya. Gila, kan?

Oleh-oleh ini dibawa bukan buat orangtua dan saudara kandung plus keponakan-keponakan saja, tapi juga buat bude-pakde, tulang-nantulang, bulik-paklik, opung A, opung B, sepupu-sepupu, hingga teman-teman. Terkadang satu koper isinya hanya oleh-oleh. Tidak masuk akal, kan?

Gantungan kunci yang bawanya gampang sudah tidak dilirik lagi sama penerima oleh-oleh. Body lotion dan perfume tetap favorit walaupun mengurangi beban per koper dengan cepat. Lipstick dan cutex mulai jadi komoditi pilihan buat saudara-saudara perempuan. Kecil, dan belinya gampang. Teman-teman mulai menyicil belanja oleh-oleh 6 bulan sebelum berangkat. Soalnya kalau dihitung-hitung bisa habis ratusan dollar. Wajar, kah?

Yang menyakitkan hati, jika yang diberi oleh-oleh tidak menerima dengan suka-hati. “Ah, di sini juga ada. Ini sih buatan Indonesia. Di outlet Bandung juga banyak. Dollar-mu sajalah buat nantulang. Yah, maunya Victoria Secret.” Ini hanya beberapa contoh reaksi dari si penerima. Terbayang sakit hati yang memberi oleh-oleh, kan?

Di awal saya pindah ke Amerika, saya juga sempat jatuh ke dalam lobang oleh-oleh ini. Oleh-oleh buat keluarga kandung jadi dibatasi karena harus membawa buat yang lain-lain. Jatah koper hanya 2x22kg. Sementara saya juga perlu bawa baju dan sepatu untuk dipakai hari-hari di Indonesia, kan? Beberapa minggu sebelum berangkat mulai stres. Kira-kira pada suka apa tidak kalau dioleh-olehin coklat, lotion merek A, dan seterusnya? Sehari sebelum berangkat koper overweight. Mana yang harus dikurangin? Kalau tante A tidak dapat oleh-oleh, sakit hati nggak, ya? Persiapan pulang pun jadi beban.

Beberapa tahun belakangan ini saya putuskan hanya membawa oleh-oleh buat orangtua, saudara kandung, dan keponakan-keponakan. Mau dibilang pelit, sombong, nggak tau adat sama saudara-saudara, saya tutup telinga saja. Pernah ditanya salah seorang opung, “Mana oleh-olehnya?” Saya jawab, “Inilah oleh-olehnya, Pung.  Aku bisa datang berkunjung.” Dia bilang, “Itu sih bukan oleh-oleh namanya.” Saya hanya tersenyum dan pergi. Dalam hati, tidak senang bisa melihat cucunya datang dalam keadaan sehat setelah duduk berjam-jam di pesawat dari Amerika. Maunya tetap dibawakan sesuatu. Terserah, ah!

Sebenarnya tidak membawa oleh-oleh buat yang lain juga bukan harga mati. Saya tetap menawarkan ke beberapa saudara dan teman dekat, mau dibawakan apa dari Amerika. Atau kalau ada yang nitip dan tidak memberatkan, saya bawakan. Yang paling seru memberi oleh-oleh buat saudara/teman yang punya hobby spesifik walaupun mereka tidak mengharapkan apa-apa.

Sayangnya kenalan-kenalan di Amerika masih belum berani mengambil langkah drastis yang sama dengan saya. Masih pada tidak enak hati. Semoga saja budaya mengharap oleh-oleh ini bisa hilang. Kalau memang ingin sesuatu, langsung saja bilang. Yang akan berkunjung pasti lebih senang mendengarnya. Tapi tetap ada batas, dong! Setuju?

Don't forget to share
CommentLuv badge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *