9 Hari Menjelajah Flores – Catatan Hari Ke-3

Two Worlds Treasures - at the top of Gili Lawa, Flores, Indonesia.

Akhir Juni hinggal awal Juli kemarin, saya sekeluarga bersama keluarga kakak dan keluarga teman ipar saya menjelajah Flores buat pertama kalinya. Sehari di sana kami sudah jatuh cinta dengan Flores. Kami terpukau dengan keindahan laut dan darat Flores. Selama 5 hari kami dimanjakan oleh keindahan laut Flores, dimana 4 hari berikutnya wisata darat Flores yang memikat kami. Dan tentunya kami bersyukur atas rahmat dan kesempatan yang diberikanNya kepada kami untuk menikmati bumi Flores selama 9 hari itu. Berikut adalah catatan perjalanan saya yang saya harap dapat menjadi acuan atau menginspirasi Anda untuk mengunjungi Flores dan tempat-tempat indah lainnya yang tersebar di Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Selamat membaca!

 

Waktu liburan: 23 Juni – 2 Juli 2017.

Tipe wisata: Wisata Keluarga. Kami bukan backpackers, tapi berusaha nge-pak seringan mungkin sesuai anjuran tour operator.

Peserta liburan: 6 dewasa, 2 anak kuliahan (well, yang satu baru mau mulai kuliah), 1 anak SMP, 2 anak SD. (Termasuk suami dan anak Amerika saya).

Akomodasi: Hotel Puri Sari, Hotel Sylvia, Kapal Kajoma 4.

Tour operator: Wil Jo – 08111262222 (buat yang tinggal di luar negeri, lebih baik hubungi lewat wa)

 

Hari Ke-3: Pink Beach (snorkeling) – Manta Point (snorkeling) – P. Pasir Putih – Gili Lawa (trekking)

Minggu pagi yang cerah dan tenang di perairan pulau Komodo. Lihat saja foto desa Komodo di bawah ini, yang lokasinya ternyata tidak begitu jauh dari tempat kami berlabuh.

Two Worlds Treasures - Komodo Village at Komodo Island.
Desa Komodo di p. Komodo.

Menurut awak kapal, disinilah lokasi turis Singapura yang digigit komodo bulan Mei kemarin. Intinya, dengarlah apa kata ranger atau penduduk setempat. Jangan pernah pergi seorang diri. Komodo itu binatang buas. Titik.

Tak lama kemudian teman-teman seperjalanan pada bangun satu per satu. Tampaknya semua tertidur pulas karena keletihan dari trekking kemarin. Kecuali teman ipar yang mencoba tidur di dek atas. Sekitar pukul 11 malam dia terpaksa turun ke kamar karena tidak tahan dengan angin laut yang menghembus di daerah kaki, atau kepalanya.

Sebenarnya saya mencoba melek semalaman karena itu adalah bulan baru. Malam yang tepat untuk melihat Milky Way, ditambah kepekatan malam di laut. Apa daya. Kantuk tak tertahankan lagi.

Pagi ini Chef Juna (nama chef di kapal) menyiapkan egg sandwich buat sarapan kami, selain cereal, buah, dan jus. Tersedia juga teh dan kopi untuk menemani sarapan pagi ini. Kamipun menyantap sarapan yang disediakan tanpa malu-malu. Kami butuh tenaga untuk snorkeling di Pink Beach. Snorkeling pertama di perjalanan ini.

Sebelum naik ke dinghy, Patris, the dive master, memberi pengarahan tentang snorkeling ke kami. Bagaimana cara memakai pelampung, mask, fin, bernafas, masuk ke air dari pantai, posisi badan dan tangan, jika kita ingin menyelam, dan sebagainya. Untungnya Patris bisa berbahasa Inggris, jadi saya tidak perlu menerjemahkannya ke suami dan anak.

Pink Beach, here we come!

 

Pink Beach

Pink Beach mendapatkan namanya dari batu karang berwarna merah yang bertebaran di perairan sekitar pantai. Bercampur dengan pasir putih, tampaklah pasir di pantai ini berwarna pink.

Two Worlds Treasures - Pink Beach, Flores, Indonesia.
Pink Beach, Flores.

Beberapa rombongan tour telah berada di pantai saat kami mendekati Pink Beach. Namanya juga musim liburan, ya? Kita tidak bisa memiliki kebebasan untuk menikmati pantai seorang diri atau dengan grup tour kita saja.

Anak saya yang dapat kesempatan belajar snorkeling di villa tempat kami menginap di Bali 2 minggu sebelumnya, langsung action, diikuti oleh suami. Saya tertinggal di belakang, bergumul dengan claustrophobia yang menyerang saat mask terpasang di muka. Panik mulai terbentuk. Buka mask, trus tarik nafas yang dalam. Lanjut, enggak, lanjut, enggak. “Sudah jauh-jauh datang dari Amerika dan bayar mahal-mahal, masa sih mundur?” batin saya membesarkan hati. Akhirnya setelah berdoa dan tarik nafas yang dalam, jadilah saya menikmati alam bawah laut di sekitar Pink Beach yang terkenal itu.

Two Worlds Treasures - getting ready for snorkeling at Pink Beach, Flores, Indonesia.
Siap-siap snorkeling di Pink Beach.

Wil Jo mengajak kami berenang ke daerah karang di sebelah kanan pantai, kedalaman 2-3 meter, di mana ikan-ikan lebih suka ‘bermain’. Indah… banget. Ikan aneka warna, corak, dan ukuran berseliweran di antara terumbu karang yang juga warna-warni dan aneka bentuk. Saking excitednya, terkadang lupa kalau lagi di air dan pakai mask. Main teriak aja “hey! liat tuh ada ikan warna biru yang ada garis kuning di badannya.” Hahaha… Kami pun cepat belajar menggunakan isyarat tangan saat di air. Atau, angkat muka ke permukaan dan teriakin apa yang kita lihat ke teman-teman. Melihat ikan sebanyak itu, rasanya ingin menyentuh dengan tangan tapi mereka sangat lihai.

Saat saya menyusul yang lain balik ke darat, Wiljo menyentuh kaki saya, memberi kode untuk mengikuti dia kembali ke tengah. Ternyata ada cumi-cumi. Dari atas tampak seperti kotak persegi panjang yang berwarna coklat muda. Dari jarak dekat, tampak seperti di foto yang diambil Wil Jo di bawah ini. Sayang saya belum punya keberanian untuk menyelam bebas. Takut nggak bisa tahan nafas yang lama, juga takut kalau ada apa-apa dengan gendang telinga. Nggak yakin apakah tubuh 100% fit buat menyelam.

Two Worlds Treasures - squid at Pink Beach, Flores, Indonesia.
Calamary anyone?

 

Kemudian kami bermain di pantai beberapa saat sebelum akhirnya balik ke kapal. Snacks dan minuman dingin telah menanti, menemani perjalanan kami ke destinasi berikut: Manta Point.

 

Manta Point (Makasser Reef)

Dari namanya, Anda bisa tebak apa yang akan kami lihat di sini. Ya, Manta Rays atau ikan Pari Manta. Ikan Pari Manta ini hidup di laut dalam, berenang melawan arus, dan… tidak dijamin 100% akan keliatan.

Manta Point terletak di sekitar Makasser Reef dengan kedalaman antara 5-15 meter dan arusnya kuat. Patris nge-brief kami dengan seksama karena kondisi air yang berbeda dengan di Pink Beach. Kami akan diturunkan di satu titik untuk melihat ikan Pari Manta dengan berenang berkelompok mengikuti arus, dan jika tidak ada, pindah ke titik yang lain. Awak dengan dinghy akan mengikuti kami dari titik aman.

Setibanya di Manta Point, tampak air berwarna biru gelap karena kedalaman tersebut. Kami turun langsung dari dinghy karena lokasi Manta Point yang di tengah laut. Air laut pun terasa dingin di tubuh. Melihat air yang gelap itu, apa mungkin ikan pari mantanya bisa keliatan? pikir saya.

Setelah semua di air, kami bergerak mengikuti Patris. Kami berenang mengikuti aturan, tidak ada yang coba-coba memisahkan diri dari kelompok. Dan ternyata sinar matahari masih tembus hingga ke dasar laut, jadi tidak gelap.

Two Worlds Treasures - looking for manta rays at Manta Point, Flores, Indonesia.
Mencari manta ray.

Tak lama kami di air, Patris atau Wil Jo melihat seekor manta berenang ke arah kami, nun di bawah sana. Kemudian tampak beberapa lagi dan jelas keliatan hingga ke ujung ekornya. Ada sekitar 8 manta yang kami lihat hari itu. Puas rasanya. Dan ternyata perjalanan kami mencari manta ini cukup lama dan saat kami naik ke dinghy, arus telah membawa kami jauh dari titik awal.

Sebelum balik ke kapal buat makan siang, kami berhenti di….

 

Pulau Pasir Putih

Saya tidak tahu persis apakah ‘seonggok’ pasir putih di tengah laut yang lebarnya tidak mencapai 15 meter dan panjangnya kurang dari 50 meter ini bisa disebut pulau. Turun dan bermain di pulau ini serasa mendapat hadiah kejutan di ulang tahun. Kita bisa lari dari ujung ke ujung dengan cepat dan air di sekitar pantai pun jernih sekali. Anak saya tidak sabar untuk kembali ke dinghy mengambil peralatan snorkeling.

Perairan di sekitar pulau ini sangat dangkal dan beberapa orang dari group tour yang lain tampak berjalan ke tengah laut, cukup jauh, dan air tidak lewat dari batas betisnya. Kami berendam, melihat ikan-ikan kecil berenang di antara kaki kami, dan berusaha menemukan batu-batu karang kecil dengan bentuk yang unik, yang kemudian kami lemparkan kembali ke laut. Senang sekali bermain air di pulau pasir putih kecil ini.

Sepasang wisman mampir ke pulau dengan jet ski. Di belakangnya sekelompok ikan mengikuti seperti terbang/loncat di atas air. Pemandangan yang luar biasa. Kami terpukau, sampai lupa mengambil kamera. Untung suami saya memegang kamera di tangan dan sempat mengabadikannya, walaupun hasilnya tidak jernih. Soalnya kejadian ini berlangsung dengan cepat sekali.

Two Worlds Treasures - fish chasing the jet ski at Labuan Bajo, Flores, Indonesia.
Perhatikan sekelompok ikan di kanan yang mengejar jet ski.

Kalau saja bisa berlama-lama di sini… Tapi kami harus pindah ke Gili Lawa, trekking dan bermalam di salah-satu teluk.

 

Gili Lawa

Kami tiba di Gili Lawa jam 4 sore. Ini adalah trekking kami yang terakhir selama di Labuan Bajo. Bukit yang kami tuju tampak menjulang dan kondisi trek dilihat dari pantai tampaknya nggak masalah-masalah amat. Ternyata, oh, ternyata… Bukan hanya terjal dari Padar, tapi juga pijakannya banyak yang berbatu-batu dan lututpun hampir menyentuh dada di beberapa titik. Saya pikir suami mengambil keputusan yang tepat untuk tinggal di kapal saja. Dia tidak mau jadi penghalang buat grup karena jalannya yang lambat.

Two Worlds Treasures - Trekking at Gili Lawa, Flores.
Trekking di Gili Lawa. Lihat pemandangan di belakang kami.

Tapi… pemandangan selama trekking ke atas keren abis. Nggak puas-puasnya saya menjepretkan kamera. Ke kiri, ke kanan, ke depan, ke bawah. Untung sudah jaman digital. Jadi nggak repot-repot ganti film.

Wil Jo dan anak-anak tiba duluan di atas. Anak saya turun naik sambil teriak, “Mommy! What took you so long?” Nggak liat dia emaknya berkalungkan kamera, back pack di punggung, hiking stick di tangan kanan, dan botol minum di tangan kiri. Dia enak, nggak bawa apa-apa. Hah…

Dari puncak pemandangan tampak semakin indah saja. Dari kejauhan kapal kami dan dua kapal lainnya tampak tenang berlabuh di teluk. Beberapa kapal merapat agak ke pantai. Dari arah kiri kami tampak sebuah kapal berlayar menuju Gili Lawa. Sepertinya tempat favorit untuk bermalam.

Two Worlds Treasures - our sailboat from afar.
Kapal kami di kejauhan.

Dan apa yang menanti kami di balik bukit? Padang rumput dengan campuran rumput berwarna hijau dan abu keunguan. Indah sekali. Saat kami menoleh ke kanan, tampak teluk lain yang mengelilingi Gili Lawa. Oooh… kehabisan kata untuk melukiskan keindahannya. Benar-benar memukau!

Perjalanan turun jauh lebih ringan. Landai dan tidak harus melalui bebatuan. Kalau Anda takut ketinggian, jalur ini bisa dilalui untuk turun dan naik, tapi Anda akan kehilangan moment alam yang indah saat mendaki. Itu saja bedanya. Kalau ada rejeki di tahun mendatang, saya akan ajak suami naik ke puncak lewat jalur ini di samping tentunya faktor usia saya yang juga sudah bertambah. Hihihi…

Matahari sudah tenggelam saat kami meninggalkan pantai. Tapi serombongan orang masih berada di puncak, menikmati saat-saat terakhir sunset di Gili Lawa. Semoga mereka sudah berbekal senter untuk perjalanan turun.

Hati senang, perut pun tenteram saat kami menyantap hidangan malam itu. Chef Juna, you rock!

 

[wpdevart_forms id=”1″ ]

Don't forget to share
CommentLuv badge

Comments

  1. Festy Wicaksono says:

    Indonesia..Dangerously beautiful❤👍

    1. Umiko Buhl says:

      Agree 100%! And there are so much to explore. If only from the U.S. is like from Jakarta to Flores. We will be at those beautiful places at every long weekend. Love Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *